JENDELAMALUKU.COM — Stasiun Meteorologi Maritim Ambon, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), mengeluarkan peringatan dini terkait meningkatnya potensi banjir pesisir (rob) serta gelombang tinggi yang diperkirakan terjadi pada 1 hingga 12 Desember 2025 di berbagai wilayah pesisir Maluku.
Peringatan ini dirilis seiring terjadinya Fase Perigee, yaitu kondisi ketika bulan berada pada jarak terdekat dengan bumi, yang bertepatan dengan fase Bulan Purnama pada 4 Desember 2025.
Menurut BMKG, kombinasi kedua fenomena astronomis tersebut akan meningkatkan tinggi pasang maksimum air laut di beberapa perairan Indonesia, termasuk Maluku. Kondisi ini dapat menyebabkan luapan air laut ke daratan dan mengganggu aktivitas masyarakat pesisir.
Wilayah Berpotensi Terdampak
Berdasarkan hasil pemantauan water level dan prediksi pasang surut, BMKG menyebutkan sejumlah wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan, antara lain:
- Pesisir Kota Ambon
- Pesisir Maluku Tengah
- Pesisir Seram Bagian Timur
- Pesisir Kepulauan Kei
- Pesisir Kepulauan Aru
- Pesisir Kepulauan Tanimbar
Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Ambon, Mujahidin, S.Si, menjelaskan bahwa dampak dari fenomena ini dapat berbeda-beda untuk tiap wilayah.
“Setiap lokasi memiliki karakteristik pasang-surut yang berbeda. Karena itu, waktu terjadinya banjir pesisir di tiap wilayah juga tidak sama. Ada yang terjadi saat dini hari, pagi, sore, atau malam,” ujar Mujahidin.
Ia menegaskan bahwa masyarakat di sekitar wilayah pesisir perlu mengikuti informasi harian karena perubahan air laut sangat dinamis.
Dampak yang Berpotensi Terjadi
BMKG memperkirakan gelombang pasang dan banjir pesisir dapat memberikan dampak terhadap berbagai sektor penting di pesisir, seperti:
- Aktivitas pelabuhan, termasuk bongkar muat barang
- Operasional kapal nelayan dan kapal penumpang
- Kegiatan ekonomi masyarakat pesisir
- Rendaman air laut sementara di permukiman yang berada dekat bibir pantai
Mujahidin menjelaskan bahwa gangguan aktivitas pelayaran bisa terjadi karena peningkatan gelombang dan perubahan tinggi muka air laut.
“Kami melihat adanya potensi gangguan pada aktivitas pelayaran tradisional maupun kapal kecil. Nelayan diminta memperhatikan kondisi sebelum melaut, terutama pada periode puncak pasang,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak meremehkan fenomena rob, karena pada beberapa titik, air laut dapat merendam jalanan dan area permukiman.
Imbauan BMKG
BMKG mengimbau masyarakat pesisir untuk tetap waspada dan menyiapkan langkah antisipasi.







