AMBON, JENDELAMALUKU.COM – Maluku didorong menjadi model nasional bahkan regional dalam penguatan pendidikan toleransi melalui pendekatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB).
Dorongan tersebut mengemuka dalam seminar bertajuk “Penguatan Karakter Bangsa untuk Mendukung Asta Cita dalam Semangat Hidup Orang Basudara melalui Pendekatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya” yang digelar di Kantor Gubernur Provinsi Maluku, Kamis (12/2/2026).
Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho mengatakan, pendekatan LKLB tengah diupayakan integrasinya dalam berbagai kebijakan prioritas pemerintah di bidang pendidikan.
Sejak dimulai pada akhir 2021, program ini telah melaksanakan 72 kelas pelatihan dasar dan meluluskan lebih dari 10.000 pendidik dari sekolah dan madrasah di berbagai daerah.
“Pendekatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya tengah diupayakan integrasinya untuk mendukung program prioritas pemerintah terkait pendidikan,” ucap Matius.
Ia menjelaskan, program tersebut sejalan dengan kebijakan seperti Kurikulum Berbasis Cinta, Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, Pembelajaran Mendalam, hingga Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.
Di Maluku, program LKLB mulai diperkenalkan secara daring pada pertengahan 2024 dan dilanjutkan dengan pelatihan tatap muka pada November 2024.
Pelaksanaannya melibatkan berbagai mitra lintas agama dan lembaga pendidikan, termasuk kunjungan peserta ke gereja dan masjid sebagai bagian dari pembelajaran membangun relasi dan kolaborasi antarumat beragama.
Menurut Matius, praktik di Maluku memiliki arti strategis karena bertumpu pada kearifan lokal seperti filosofi hidup “Orang Basudara” dan “Pela Gandong”, di wilayah yang pernah mengalami konflik sosial berbasis identitas. Ia berharap pengalaman Maluku dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia.
“Keberhasilan upaya di Maluku ini tidak hanya penting bagi Indonesia, tetapi juga bagi negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara,” katanya.
Disebutkan juga bahwa LKLB telah menjadi salah satu strategi ASEAN hingga 2045 untuk mendorong komunitas yang inklusif dan kohesif.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku, Sarlota Singerin menegaskan, kolaborasi Pemprov Maluku bersama Institut Leimena akan semakin memperkuat posisi pendidikan sebagai instrumen strategis membangun kohesi sosial di daerah tersebut.







