Di sekitar Manoa, tebing dan ceruk batu Ohoidertawun juga menyimpan lukisan batu kuno yang dikaitkan dengan kehadiran awal masyarakat Austronesia di wilayah ini.
Siluet manusia, bentuk simbolis, dan kemungkinan representasi perahu menunjukkan bahwa pesisir ini telah lama menjadi tempat persinggahan, pengamatan, dan transmisi jauh sebelum zaman modern.
Dengan demikian, Manoa Kei berdiri di dalam lanskap di mana lingkungan, ingatan, dan budaya menyatu, menghubungkan hospitalitas masa kini dengan kesinambungan manusia yang telah berlangsung ribuan tahun.
“Tentunya saya merasa sangat diterima, ruang humanis disini sangat kental, warta lokal menyambut dengan senyuman dan sapaan yang tentunya sudah sangat jarang ditemui di negara kami,” ungkapnya, Sabtu (7/2/2026).
Menurutnya, keramahana masyarakat lokal Kei menjadikan pulau ini seperti rumah yang akrab baginya.
“Ya saya serasa kembali ke rumah, ruang humanis itu nasih ada, interaksi manusia terasa hidup dan ikatan satu sama lain masih terasa sangat dekat dan kental, mungkin suatu saat saya akan kembali dengan membawa teman dan keluarga yang lebih banyak,” pungkasnya.







