Kesehatan

HIV pada Anak Masih Jadi Tantangan Serius, Stigma Hambat Akses Perawatan

×

HIV pada Anak Masih Jadi Tantangan Serius, Stigma Hambat Akses Perawatan

Sebarkan artikel ini

Cegah HIV

21/1/2026 - HIV
ILUSTRASI: HIV pada anak dan pencegahannya. FREEPIK

JENDELAMALUKU.COM – Selama ini, HIV kerap dianggap hanya menyerang orang dewasa.

Padahal, anak-anak juga termasuk kelompok rentan yang dapat terinfeksi, baik sejak dalam kandungan maupun pada fase kehidupan berikutnya.

Sayangnya, stigma yang masih kuat di masyarakat membuat banyak anak dengan HIV belum mendapatkan perawatan dan dukungan yang optimal.

Padahal, HIV pada anak memiliki karakteristik yang berbeda dengan orang dewasa dan membutuhkan penanganan khusus, tidak hanya dari sisi medis tetapi juga dukungan psikososial agar tumbuh kembang anak tetap optimal.

Ribuan Anak Hidup dengan HIV di Indonesia

Dilansir dari laman resmi Kemenkes, data hingga Juni 2025 menunjukkan, dari total 353.694 orang dengan HIV (ODHIV) yang telah mengetahui statusnya, sebanyak 10.533 orang atau sekitar 3 persen merupakan anak-anak.

Mengacu pada Permenkes No. 25 Tahun 2014, kategori anak mencakup individu hingga usia 18 tahun, termasuk janin dalam kandungan.

Anak dengan HIV (ADHIV) tersebar di berbagai kelompok usia.

Sebanyak 1.395 anak berusia di bawah 4 tahun, 4.162 anak berada pada rentang usia 5-12 tahun, 1.664 anak berusia 13–15 tahun, dan 3.312 anak berada di usia 1-18 tahun.

Data ini menegaskan bahwa HIV pada anak masih menjadi persoalan kesehatan yang nyata dan membutuhkan perhatian lintas sektor.

Jalur Penularan HIV pada Anak

Mayoritas kasus HIV pada anak terjadi melalui transmisi vertikal, yakni penularan dari ibu ke anak.

Penularan dapat terjadi selama kehamilan, proses persalinan, maupun melalui pemberian ASI.

Selain itu, meski jumlahnya lebih kecil, penularan juga bisa terjadi secara horizontal, misalnya melalui penggunaan jarum suntik bersama, tindik, atau tato dengan alat yang tidak steril.

Pada kelompok remaja, risiko penularan HIV juga dapat meningkat akibat perilaku seksual yang tidak aman.

Masa remaja merupakan fase yang rentan karena tingginya rasa ingin tahu, tekanan lingkungan, serta potensi eksploitasi seksual.

Kurangnya informasi yang benar dapat membuat remaja terjebak dalam perilaku berisiko, termasuk terpapar HIV dan infeksi menular seksual lainnya.

Pencegahan Sejak Kehamilan hingga Remaja

Penularan HIV dari ibu ke anak sejatinya dapat dicegah melalui berbagai intervensi medis. Di antaranya adalah skrining HIV pada ibu hamil, pemberian terapi antiretroviral (ARV) bagi ibu yang terinfeksi, penanganan persalinan sesuai indikasi medis, serta pemberian profilaksis HIV pada bayi baru lahir.

Pemberian ASI juga dilakukan sesuai dengan standar dan ketentuan yang berlaku.

Sementara itu, upaya pencegahan pada remaja perlu dilakukan melalui pendekatan edukatif dan suportif.

Baca artikel menarik lainnya dari JENDELAMALUKU.COM Di CHANNEL TELEGRAM