AMBON, JENDELAMALUKU.COM – Sebanyak 175 guru dan kepala sekolah alumni Program Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) di Maluku kini menjadi agen perubahan di sekolah masing-masing, membawa praktik perdamaian dan toleransi ke lebih dari 283 sekolah multikomunitas agama di provinsi ini.
Hal itu terungkap dalam seminar “Penguatan Karakter Bangsa untuk Mendukung Asta Cita dalam Semangat Hidup Orang Basudara melalui Pendekatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB)” yang diselenggarakan di Kantor Gubernur Provinsi Maluku, Kamis (12/2/2026).
Seminar ini digelar oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku bersama Institut Leimena, dengan dukungan sejumlah lembaga pendidikan dan keagamaan.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku, Sarlota Singerin, menekankan pentingnya peran alumni LKLB untuk memperkuat kohesi sosial melalui pendidikan.
“Institut Leimena memiliki pengalaman nasional dalam pengembangan dan implementasi pendekatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya, termasuk pelatihan guru dan kepala sekolah di berbagai provinsi,” kata Sarlota.
Ia menjelaskan, khusus di Maluku, Program LKLB untuk Perdamaian telah berlangsung selama dua tahun dan menghasilkan 175 alumni guru dan kepala sekolah yang aktif menyebarkan praktik baik di sekolah masing-masing.
Para alumni LKLB menerapkan pendekatan ini melalui berbagai kegiatan, seperti dialog lintas agama di sekolah, pengajaran nilai toleransi dan kerukunan, serta integrasi prinsip Orang Basudara ke dalam kurikulum pendidikan karakter.
Program ini menekankan kolaborasi antarumat beragama dan penghargaan terhadap keberagaman sebagai fondasi pembelajaran.
Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho mengatakan, program ini telah melatih lebih dari 10.000 pendidik secara nasional melalui 72 kelas pelatihan dasar, dengan tujuan memperkuat kerukunan umat beragama yang majemuk dan membangun komunitas inklusif di tingkat lokal maupun internasional.
“Kami berharap seminar hari ini dapat membuahkan langkah-langkah tindak lanjut konkret karena keberhasilan upaya di Maluku ini tidak hanya penting bagi Indonesia, tetapi juga bagi negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara,” ujar Matius.
Selain pendidikan formal, alumni LKLB juga memanfaatkan budaya lokal untuk memperkuat pesan perdamaian.
Di Ambon, misalnya, mereka menggunakan musik sebagai media pedagogi, memanfaatkan status kota ini sebagai UNESCO City of Music.
Dalam seminar, 16 guru alumni beragama Islam dan Kristen menampilkan lagu-lagu ciptaan mereka sendiri dengan lirik berbahasa Maluku bertema perdamaian.







