Hari berikutnya, peserta mendalami nilai-nilai perdamaian yang berakar pada budaya “Orang Basudara” yang telah menjadi identitas sosial masyarakat Maluku selama berabad-abad.
Mereka kemudian diajak berkolaborasi melalui musik untuk menciptakan lagu-lagu bertema perdamaian, sekaligus mempelajari cara membaca fenomena intoleransi di lingkungan sosial.
Sesi “LKLB dalam Lagu” menjadi salah satu bagian penting, karena membimbing guru memanfaatkan musik sebagai ruang kolaborasi lintas agama. Selain itu, peserta juga dilatih menyusun rencana pembelajaran berbasis nilai-nilai LKLB agar metode ini dapat diterapkan di berbagai mata pelajaran.
Sejumlah narasumber hadir dalam program ini, termasuk Ketua Umum Sinode GPM Pdt. Sacharias Izack Sapulette, Ketua PGIW Maluku Pdt. Elifas Maspaitella, Ketua Yayasan Sombar Negeri Maluku Prof. Dr. Hasbollah Toisuta, Rektor UIN Abdul Muthalib Sangadji Ambon Dr. Abidin Wakano, serta Wakil Rektor IAKN Ambon Dr. Branckly E. Picanussa.
Program LKLB untuk Perdamaian juga menarik perhatian internasional.
Pelatihan ini menjadi model yang dipelajari negara lain, khususnya di Asia Tenggara.
Pada pelaksanaan kali ini, hadir tujuh pengamat dari Kementerian Pendidikan Dasar, Tinggi, dan Teknis Daerah Otonomi Bangsamoro, Mindanao, Filipina, untuk menyaksikan langsung bagaimana pendekatan musik diterapkan dalam membangun perdamaian.







