Untuk mengatasi keterbatasan bahan ajar, ia kerap membuat alat peraga dari barang-barang bekas.
Buku pelajaran yang minim dan akses referensi yang bergantung pada internet memaksa dirinya terus berinovasi.
“Pasalnya, buku paket terbatas jika harus mencari referensi di internet terkendala listrik, jadi kami harus pandai berinovasi,” tuturnya.
Sebelum jaringan internet tersedia, guru dan murid bahkan harus berjalan menembus hutan hanya untuk mengikuti ANBK.
Kini situasinya sedikit membaik dengan hadirnya layanan internet satelit.
“Ya, Puji Tuhan sekarang cukup dimudahkan dengan akses Starlink,” ujarnya.
Melalui perjalanan Ike, tampak jelas bahwa pembangunan di wilayah 3T masih jauh dari merata.
Perjuangannya menjadi potret betapa besar tanggung jawab yang dipikul para guru di pelosok, sering kali tanpa dukungan layak dari negara.







