Ia menjelaskan, pada Oktober lalu inflasi volatile food di Maluku mencapai 5,12 persen, dengan harga cabai rawit sempat menembus Rp100 ribu per kilogram, menempatkan Maluku sebagai salah satu “zona merah” inflasi nasional.
“Panen ini diharapkan dapat memperkuat pasokan cabai di pasar lokal, menekan harga, dan menjaga kestabilan ekonomi masyarakat. Ini merupakan komitmen kami dalam mendukung ketahanan pangan berkelanjutan di Maluku,” tegas Latif.
Panen perdana ini menegaskan sinergi antara inovasi digital dan praktik konvensional yang dikelola Komunitas Smart Farming Maluku. (*)







