Utama

Dua Sekolah Gandong di Ambon Ini Tampilkan Kurikulum Berbasis Nilai Gandong dan Pela

×

Dua Sekolah Gandong di Ambon Ini Tampilkan Kurikulum Berbasis Nilai Gandong dan Pela

Sebarkan artikel ini

LKLB

30/11/2025 - Sekolah Gandong
AMBON: SMAS Rehoboth Ambon dan SMAS Al-Hilaal Ambon, pada Kamis (28/11/2025) memaparkan praktik baik implementasi kurikulum berbasis nilai budaya lokal. (JendelaMaluku.co - Isro Belen)

AMBON, JENDELAMALUKU.COM – Dua sekolah gandong di Kota Ambon, SMAS Rehoboth Ambon dan SMAS Al-Hilaal Ambon, pada Kamis (28/11/2025) memaparkan praktik baik implementasi kurikulum berbasis nilai budaya lokal.

Konsep “gandong”, yang dalam budaya Maluku berarti ikatan persaudaraan sedarah, menjadi dasar kolaborasi kedua sekolah sejak 2004.

Program insersi kurikulum menekankan integrasi nilai-nilai budaya Maluku seperti pela, gandong, toleransi, solidaritas, dan harmoni sosial ke dalam pembelajaran.

Kepala Bidang GTK, Jefikz Berhitu, memberikan apresiasi atas komitmen kedua sekolah.

Ia menekankan pentingnya dokumentasi praktik baik secara sistematis agar menjadi rujukan bagi sekolah lain, tidak hanya di Maluku dan Indonesia, tetapi juga di tingkat global.

Selain itu, Jefikz mendorong penguatan pembelajaran berbasis proyek, keterlibatan siswa dalam kegiatan sosial-budaya, dan penciptaan ruang dialog inklusif sebagai wujud literasi keberagaman.

“Dunia membutuhkan contoh praktik toleransi yang lahir dari budaya lokal, dan Maluku memiliki kekuatan itu,” ujarnya.

Dalam sesi berbagi pengalaman, Kepala SMAS Kristen Rehoboth Ambon, Salomina Patty, menuturkan kerja sama kedua sekolah berangkat dari pengalaman konflik Ambon 1999.

“Pela dan gandong menjadi kunci pemulihan saat itu. Nilai-nilai ini harus terus diajarkan kepada generasi muda. Anak-anak merasa ini kesempatan emas untuk memiliki saudara lintas iman,” katanya.

Salomina Patty mencontohkan lomba tari dan menyanyi yang menggabungkan siswa dari dua agama dalam satu proyek, termasuk tarian Samrat yang biasanya dibawakan oleh siswa Muslim namun kali ini ditampilkan bersama siswa Kristen.

“Kolaborasi ini membuktikan bahwa integrasi nilai gandong dan toleransi bukan sekadar teori, tetapi praktik nyata di sekolah,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala SMAS Al-Hilaal Ambon, Jaleha Sangaji menambahkan, kerja sama awalnya menantang, namun kini mendapat antusiasme besar dari siswa, guru, dan orang tua.

“Kami mulai dengan MoU bersama, lalu kegiatan kolaboratif guru dan siswa. Bahkan orang tua ikut terlibat menyiapkan konsumsi bersama. Ini bukan hanya program sekolah, tetapi gerakan yang menyatukan komunitas,” ungkapnya.

Kegiatan ini melibatkan lima guru perwakilan dari kedua sekolah yang mempresentasikan praktik integrasi nilai kerukunan lintas agama dan budaya dalam pembelajaran.

Para guru menjelaskan cara menyisipkan nilai-nilai toleransi ke dalam materi akademis, mulai dari bahasa, ilmu pengetahuan, hingga pendidikan agama.

Meskipun terdapat tantangan dalam menggabungkan nilai kerukunan ke mata pelajaran akademis, hal ini justru mendorong kreativitas guru dalam mendesain pembelajaran.

Baca artikel menarik lainnya dari JENDELAMALUKU.COM Di CHANNEL TELEGRAM