BeritaMaluku Tenggara

Maraknya Aksi Bom Ikan, Masyarakat Desa Tam Maluku Pilih Konservasi Terumbu Karang Mandiri

×

Maraknya Aksi Bom Ikan, Masyarakat Desa Tam Maluku Pilih Konservasi Terumbu Karang Mandiri

Sebarkan artikel ini

Maluku

TUAL,  JENDELAMALUKU.COM – Desa Tam yang terletak di Kecamatan Tayando Tam, Kota Tual, Provinsi Maluku, menerapkan konservasi terumbu karang secara mandiri.

Hal tersebut murni lahir dari keprihatinan warga, yang menyaksikan wilayah lautnya rusak oleh aktifitas pengeboman ikan oleh nelayan dari luar wilayah desa tersebut.

Imbas dari pemboman ikan menggunakan bahan kimia terumbu karang pun rusak, apalagi aktivitas masyarakat luar yang mengunakan racun (akar tuba) yang memusnahkan ikan hingga biota laut di sekelilingnya.

Konservasi terumbu karang dimulai sejak tahun 1990, beranjak dari keprihatinan akan hasil tangkapan ikan dari nelayan Desa Tam menurun dari hari ke hari.

“Kami bersepakat untuk melakukan patroli laut di Perairan Wilayah Desa Tam, dengan tujuan merehabilitasi terumbu karang, yanh menjadi rumah bagi biota laut,” ujar Rudi Elwaan, Sekertaris Badan Saniri Ohoi (BSO) Desa Tam, Kamis (20/8/2026).

Baja Juga :  Tahap Pelunasan Biaya Haji 2025 Jemaah Reguler Dibuka 14 Februari

Menurutnya, di beberapa spot yang biasanya ada ikan jenis tertentu, kini sudah nihil akibat maraknya penggunaan racun dan bom ikan.

Rudi mengisahkan, para pelaku pengeboman ikan ini masuk ke wilayah Desa Tam di waktu tertentu, ada yang bekerja sama dengan oknum tak bertanggung jawab dari Desa Tam, sehingga waktu pergerakan pemuda untuk patroli pun benar-benar diketahui secara pasti.

“Mereka beraksi biasanya pada pukul 02:00 dini hari, modus operandi yang dilakukan melepas sejumlah penyelam ke dasar laut menggunakan tabung oksigen
Dengan perhitungan di jam tertentu teripang dan lola juga naik, pas pukul 05:00 WIT dijemput dengan sejumlah hasil bius yang sudah didapat, nilainya mencapai Rp. 30 juta dalam semalam,” jelasnya.

Baja Juga :  Indonesia Perkuat Diplomasi Keagamaan dan Halal Global Lewat Kerja Sama dengan Islamic Center Australia

Dirinya memaparkan, sulit untuk menangkap para pelaku pemboman ikan, karena keterbatasan mesin yang digunakan warga tidak sebanding dengan para pelaku.

“Mereka menggunakan mesin 40 pk, kami hanya menggunakan 10 pk, alhasil kejar-kejaran di laut tidak dapat dimenangkan warga,” cetusnya.

Berangkat dari maraknya aktifitas pemboman ikan masyarakat bersepakat untuk melakukan konservasi terumbu karang secara mandiri, tanpa bantuan pemerintah dan swasta.

“Kami prihatin akan hasil laut yang berangsur-angsur berkurang, dan berusaha untuk mengembalikan ekosistem bawah laut yang sehat bagi ikan, lola dan teripang, agar hasilnya dapat digunakan masyarakat dan meminmalisir generasi muda untuk merantau, karena hasil alam desa Tam sangat menjanjikan,” pungkasnya.

Baca artikel menarik lainnya dari JENDELAMALUKU.COM Di CHANNEL TELEGRAM