Ia menegaskan, penugasan kepala sekolah harus dapat dipertanggungjawabkan melalui kinerja.
Karena itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Maluku diminta melakukan pembinaan dan evaluasi secara objektif serta terukur.
“Ukuran keberhasilan seorang kepala sekolah bukan berapa lama ia menduduki jabatan. Ukuran keberhasilannya adalah apa yang berubah setelah ia memimpin,” kata Lewerissa.
Menurutnya, pendidikan menjadi salah satu sektor prioritas pembangunan Pemerintah Provinsi Maluku bersama kesehatan dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
Lewerissa mengakui masih terdapat berbagai persoalan dalam mutu pendidikan di Maluku. Namun, kondisi tersebut menurutnya harus menjadi dorongan untuk melakukan pembenahan, bukan alasan untuk berhenti melakukan perbaikan.
“Kita tidak usah malu untuk mengakui bahwa kita masih kurang. Tetapi fakta itu harus mendorong kita untuk memacu bagaimana kita mengelola bidang pendidikan ini secara baik,” ujarnya.
Lewerissa juga mengingatkan para kepala sekolah untuk menempatkan diri sebagai pemimpin, bukan sekadar pejabat yang mengelola administrasi sekolah.
“Ingat, pemimpin itu bukan bos, dia adalah manajer. Dia me-manage, dia me-lead, dia harus bisa memimpin orang-orang yang dipimpin, baik guru maupun staf administrasi maupun peserta didik, serta membangun relasi dengan pihak orang tua dan berbagai organisasi yang ada di sekitar sekolah,” tandasnya.
Ia berharap para kepala sekolah menjalankan amanah dengan integritas, disiplin, kerja keras dan inovasi, sehingga sekolah-sekolah di seluruh wilayah Maluku mampu melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, terampil dan mampu bersaing.(*)







