Selain itu, Pertamina memanfaatkan teknologi digitalisasi guna memantau kondisi ketersediaan BBM hingga ke tingkat lembaga penyalur terdepan.
“Di era digitalisasi ini kami juga mengembangkan sistem berbasis digital… sehingga dengan digitalisasi ini harapan kami bisa memantau stok di lembaga penyalur baik itu di SPBU, SPBU nelayan, maupun APMS secara real time. Sehingga apabila ada kebutuhan yang mendesak di masyarakat, kami bisa dengan segera melakukan pengiriman BBM tersebut,”jelasnya.
Ketahanan Stok Optimal hingga 20 Hari
Di wilayah Ambon sendiri, operasional distribusi disalurkan melalui jaringan penyalur yang mencakup 8 SPBU reguler, 1 SPBU Nelayan, serta 17 Pertashop.
Pihak manajemen menegaskan bahwa tingkat ketahanan stok (days of supply) energi di Wayame berada dalam kondisi yang sangat aman dan optimal.
“Dengan kondisi stok optimal kita untuk seluruh produk, apabila kita mendapati itu 17 sampai dengan 20 hari. Tapi sebagaimana yang kita tahu, suplai akan terus jalan sehingga angka 17 sampai 20 hari itu akan terus bertambah,” terangnya.
Kelancaran pasokan energi tersebut disokong oleh rantai suplai utama dari kilang dalam negeri, serta skenario cadangan yang matang.
“Pemasok utama kita ada di RU V Balikpapan yang berada di Balikpapan. Kemudian apabila ada kendala, kita juga sudah mempunyai backup plan, kita mengambil dari RU Cilacap,” pungkasnya.(*)







