JENDELAMALUKU.COM – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan perlunya Indonesia mengambil posisi sebagai pemimpin etika global di tengah percepatan perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi digital.
Nasaruddin menyoroti bahwa kemajuan teknologi yang berlangsung cepat berisiko kehilangan arah bila tidak disertai fondasi moral yang kuat.
Ia merujuk hubungan antara “iqra” dan “bismirabbik” sebagai prinsip penting agar inovasi tetap memuliakan manusia.
“Dunia Informasi Teknologi (IT) yang berkembang sekarang dan di masa mendatang menjadi bagian dari gambaran dunia dalam Al-Qur’an tentang hubungan antara iqra dan bismirabbik. Bila iqra berjalan tanpa nilai bismirabbik, maka arah perkembangan itu bisa kehilangan kendali. Jangan-jangan kondisi seperti itu justru melahirkan monster,” ujarnya dikutip dari laman resmi Kemanag.
Dalam konteks global, Nasaruddin menilai Indonesia memiliki kekuatan untuk ikut membentuk arah etika teknologi dunia.
“Teknologi berkembang begitu cepat, sementara moralitas kita kadang tertinggal. Karena itu Indonesia tidak boleh hanya menjadi pengguna, tetapi harus menjadi bangsa yang memberi arah,” katanya.
Ia menegaskan, transformasi digital harus tetap mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan.
“Kita harus memastikan bahwa kemajuan digital tetap memuliakan manusia. Teknologi itu harus punya jiwa,” tambahnya.
Menurut Menag, isu etika teknologi kini menjadi perhatian penting dalam dialog antaragama internasional.
Ia menyebut pembahasan tersebut akan kembali mengemuka pada pertemuan lintas agama di Vatikan, Desember mendatang.
“Kami membahas perlindungan kemanusiaan dari dehumanisasi digital, penyelamatan lingkungan dengan pendekatan agama, dan kebutuhan mendesak moralitas spiritual untuk mengawal AI. Tanpa etika, teknologi bisa bergerak menjadi sesuatu yang sangat membahayakan peradaban,” katanya.
Menag menilai bahwa modal sosial Indonesia, mulai dari tradisi keberagamaan yang moderat hingga kemampuan menjaga kerukunan menjadi alasan kuat negara ini dapat menjadi rujukan moral di era digital.
“Kita memiliki tradisi keagamaan yang moderat, kepemimpinan ulama yang kuat, dan pengalaman panjang menjaga harmoni. Dunia melihat Indonesia mampu menghadirkan panduan moral yang relevan bagi masa depan,” ungkapnya.
Dari perspektif MUI, perubahan digital juga berdampak pada bagaimana masyarakat mencari panduan keagamaan.
Ketua MUI Bidang Infokom Masduki Baidlowi menyatakan, pola pencarian informasi agama kini bergeser.
“Sekarang anak-anak muda bertanya tentang agama bukan ke ulama, tapi ke algoritma. Ini perubahan besar yang harus kita sikapi,” ujarnya.(*)







