LANGGUR, JENDELAMALUKU.COM – Warga Ohoi (Desa) Rumadian, Kecamatan Manyeuw, Kabupaten Maluku Tenggara (Malra), membangun jembatan darurat secara swadaya dengan kayu dan papan.
Pasalnya, perbaikan jembatan yang dijanjikan Pemerintah Provinsi Maluku, tak kunjung terealisasi.
Egidius Sadsuitubun, salah satu warga Ohoi Rumadian kecewa. Lantaran dirinya dan warga lainnya sudah menunggu kepastian perbaikan setelah jembatan penghubung antar Kecamatan di sana ambruk akibat over kapasitas 11 Maret 2025 lalu.
“Saat ambruk kan dijanjikan sendiri oleh Gubernur Maluku, akan diperbaiki namun tak terealisasi,” ungkapnya. Selasa (30/12/2025).
Menurutnya, setiap hari warga menyaksikan anak dan perempuan, harus bertaruh nyawa memanjat pinggir jembatan untuk dapat bersekolah dan mengajar dari situlah jiwa empati warta mulai muncul.
“Setelah menunggu hampir 10 bulan, semua elemen tokoh pemuda, masyarakat maupun agama telah bersuara, namun nihil perhatian Pemprov Maluku, warga pung berinisiatif membangun jembatan darurat secara swadaya,” ujarnya.
Dirinya mengemukakan, proses pengerjaan kurang lebih tiga hari, warga bahu membahu membangun Jembatan darurat, hingga kini telah dapat digunakan namun khusus untuk roda dua.
” Ya sejak awal bulan jembatan sudah dapat digunakan, dengan tarif penyeberangan Rp. 5 ribu namun tidak dipaksakan untuk membayar jika tidak punya cukup uang,” kata dia.
Sehari kurang lebih ratusan kendaraan yang melewati Jembatan ini, warga pun bergantian menjaga fasilitas penyebrangan darurat ini.
Dirinya berharap pemerintah segera merealisasikan jembatan yang telah dijanjikan beberapa waktu lalu. Ia meminta Gubernur Maluku, tak cuma janji-janji semata.
“Pak Gubernur jangan hanya bicara saja. katanya akan disegerakan, tetapi nyatanya hingga hari ini masih belum ada kejelasan, harapannya supaya di percepat lah,” pungkasnya.







