TUAL, JENDELAMALUKU.COM – Di tengah keterbatasan akses dan tantangan geografis, semangat pengabdian terus menyala dari Pulau-pulau terluar di Kota Tual, Provinsi Maluku.
Para pendidik, rela meninggalkan keluarga di tengah himpitan akses mobilitas yang sulit untuk mencapai locus tugas.
Kadang akses konektivitas jaringan listrik dan telekomunikasi menjadi tantangan sendiri antara tuntutan tugas dan kerelaan pengabdian.
Bahkan ada kalanya nyawa menjadi taruhan di tengah cuaca ekstrem dan tuntutan berada di satuan pendidikan.
Atas pengabdian guru di kawasan terpencil dan 3T,
Kepala dinas pendidikan dan kebudayaan Kota Tual Zein Nuhuyanan mengatakan potret penggerak pendidikan ada pada ketulusan pengabdian.
“Para Guru di Pulau-pulau merupakan motor penggerak pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia di Kota Tual,” ujarnya, Sabtu (2/5/2026).
Menurutnya, di tahun sebelumnya ada reward bagi guru yang bertugas di wilayah terluar yakni umroh dan kepsek yang berprestasi diberikan kendaraan dinas.
“Kami kira ini juga harus kembali digalakan, untuk memberikan motivasi menjalankan tugas dan pelayan di satuan pendidikan setempat,” kata Nuhuyanan.
Ia pun meminta agar, semua tenaga guru di daerah terluar tetap semangat menjalani tugas dan tanggung jawab.
“Kami berharap agar para guru tetap konsisten, soal kurang dan lebih dalam proses tersebut, hanyalah kelengkapan namun yang dibutuhkan sikap ikhlas dalam menjalani tugas,” ujarnya.
Dirinya menambahkan, di tahun 2026 Disdikbud Kota Tual telah meluncurkan kebijakan inovasi bertajuk “Guru Sakti” untuk meningkatkan profesionalisme tenaga pendidik.
“Guru Sakti merupakan singkatan dari guru yang Santun, Amanah, Kreatif, Teladan, dan Ikhlas. Inovasi ini diharapkan menjadi standar baru bagi guru di Kota Tual dalam menjalankan tugasnya secara profesional,” pungkasnya.







