AMBON, JENDELAMALUKU.COM – Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Maluku, Edi Setiawan, mengajak para ayah di Maluku untuk mendobrak budaya patriarki yang selama ini membebankan urusan pengasuhan anak sepenuhnya kepada ibu.
Hal tersebut disampaikannya di sela-sela kegiatan silaturahmi yang berlangsung di Cafe Ujung JMP, Ambon, Rabu (24/6/2026) siang.
PPTX
Edi mengungkapkan, tema Hari Keluarga Nasional (HARGANAS) Ke-33 Tahun 2026, yaitu “Ayah Wajib Hadir”, sengaja diangkat karena melihat kultur patriarki yang masih mengakar kuat di tengah masyarakat Indonesia, termasuk di Kota Ambon dan Maluku secara umum.
“Kebanyakan tugas-tugas keluarga itu dibebankan ke ibu. Termasuk terlibat dalam pengasuhan, urusan anak itu diberikan kepada ibu, seperti urusan sekolah, terima rapor, belanja, semuanya dibebankan ke ibu,” ujar Edi.
Menurutnya, pola seperti ini harus segera diubah.
Tanggung jawab pengasuhan anak sejatinya merupakan komitmen kolaboratif yang harus dijalankan bersama secara setara oleh ayah dan ibu.
Ketidakhadiran sosok ayah dalam pengasuhan dipastikan akan meninggalkan celah yang kurang baik bagi proses tumbuh kembang anak.
Ancaman Nyata Fenomena Fatherless dan Strawberry Generation
Pernyataan Edi ini diperkuat oleh data internal BKKBN lewat Pendataan Keluarga (PK) sementara tahun 2025, yang mencatat angka fatherless (ketiadaan peran ayah) di Maluku menyentuh angka 22,5 persen.
Secara nasional, data BPS bahkan menunjukkan baru sekitar 37,17 persen anak usia 0-5 tahun di Indonesia yang diasuh oleh kedua orang tua kandung secara bersamaan.
Kurangnya kehadiran figur ayah secara emosional dan psikologis ini berdampak fatal pada perkembangan karakter anak.
Dalam paparannya menyebutkan, krisis kedekatan dengan ayah memicu lahirnya strawberry generation – generasi yang tampak kreatif dari luar, namun rapuh di dalam saat menghadapi tekanan.
Anak-anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah cenderung memiliki daya juang rendah, kurang disiplin, rentan mengalami masalah kesehatan mental seperti stres dan kecemasan, hingga lebih berisiko terjerumus ke perilaku destruktif seperti pergaulan bebas dan narkoba.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, ketidakstabilan mental generasi muda dikhawatirkan dapat mengancam produktivitas wilayah dan membuat Maluku kehilangan peluang emas dalam memanfaatkan Bonus Demografi.
Komitmen Lewat Program GATI
Menyikapi urgensi tersebut, BKKBN Maluku bergerak cepat dengan mengoptimalkan peran ayah, salah satunya lewat program prioritas GATI (Gerakan Ayah Teladan Indonesia).






