Langgur, Jendelamaluku.com – Dampak musim kemarau dan kekeringan mulai dirasakan masyarakat di Kabupaten Maluku Tenggara (Malra), Provinsi Maluku.
Sejumlah komoditas pangan, terutama sayuran mengalami kenaikan harga dalam beberapa pekan terakhir.
Salah satu pedagang, Susi asal Ohoi (Desa) Faan, mengatakan, kenaikan harga paling terasa terjadi pada komoditas sayuran yang pasokannya berkurang akibat kondisi cuaca kering di sejumlah wilayah produksi.
‘Sayur-sayuran memang mengalami kenaikan harga karena dampak kekeringan. Darah penghasil di tingkat lokal pun nihil berkurang pasokan,” ujarnya, Rabu (16/9/2026).
Ia menjelaskan, harga sayur hijau saat ini berada di kisaran Rp. 10 ribu per ikat.
“Demikian juga dengan sayur buah, seperti terong, ketimun dibandrol Rp. 10 ribu per ikat, bahkan untuk labu cina ada di angka Rp. 20 ribu per ikat,” kata dia.
Susi pun mengaku kondisi itu selalu dikeluhkan para konsumennya. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa karena kenaikan harga sudah terjadi di tingkat pemasok sayuran.
Dirinya menambahkan, selain harganya naik, pasokan sayuran dari pemasok juga berkurang. Hal itu disebabkan seretnya hasil panen petani.
”Katanya petani banyak yang gagal panen karena kekeringan,” tutur Susi.
Kebanyakan, sayur diambil dari Timika, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, jadi harganya memang agak tinggi.
“Kami berharap intervensi pasar dilakukan oleh pemerintah daerah, agar kami tidak kesulitan dalam pasokan pangan,” imbuhnya.







