Nur Tasmiah Sirajuddin, dari bidang Manajemen Sumberdaya Pesisir memberikan pemahaman mengenai peran perempuan dalam pengelolaan sampah.
Peran tersebut dapat dimulai dari lingkungan rumah tangga melalui kebiasaan memilah dan mengurangi sampah sebelum akhirnya berpotensi mencemari kawasan pesisir.
Kegiatan berlangsung secara interaktif. Peserta tidak hanya menerima materi dari para akademisi, tetapi turut berbagi pengalaman mengenai aktivitas perdagangan ikan, pengelolaan keuangan keluarga maupun usaha, serta persoalan lingkungan yang mereka hadapi sehari-hari.
Salah seorang peserta, Susanti Kibas, menilai materi yang diberikan berkaitan erat dengan kehidupan perempuan pesisir.
“Semua informasi yang diberikan hari ini sangat penting bagi kami. Banyak hal yang kami lakukan setiap hari berkaitan dengan ikan, keluarga, usaha, dan lingkungan. Kami berharap pengetahuan yang dibagikan ini dapat membantu perempuan pesisir Assilulu ke depan,” ungkap Susanti.
FPIK Unpatti menilai perempuan memiliki posisi strategis dalam pembangunan masyarakat pesisir karena terlibat dalam berbagai mata rantai kehidupan, mulai dari pengolahan dan pemasaran hasil perikanan, ekonomi keluarga, hingga pengelolaan lingkungan.
Karena itu, pengembangan Negeri Assilulu sebagai desa binaan tidak hanya diarahkan kepada kelompok nelayan, tetapi juga menyasar perempuan sebagai salah satu kekuatan penting masyarakat pesisir.
Ke depan, pengetahuan yang diperoleh melalui kegiatan tersebut diharapkan dapat dikembangkan menjadi praktik yang lebih konkret, seperti peningkatan keterampilan penanganan hasil tangkapan, pemanfaatan limbah perikanan, pencatatan keuangan usaha, pemasaran berbasis digital, hingga aksi pengurangan sampah pesisir.
Melalui pendampingan berkelanjutan, FPIK Unpatti berharap pengetahuan akademik dapat berpadu dengan pengalaman masyarakat sehingga menghasilkan kegiatan yang memberi manfaat langsung bagi perempuan, keluarga, dan keberlanjutan pesisir Negeri Assilulu.(*)







