Ukuran sedang yang digunakan untuk merebus obat herbal dibanderol Rp50 ribu, sedangkan bentuk guci berukuran besar sekitar Rp200 ribu.
Meski demikian, kerajinan Suram masih memiliki pasar, termasuk dari wisatawan mancanegara yang berkunjung langsung ke Desa Tam.
“Peminat yang datang langsung membeli di desa kebanyakan wisatawan mancanegara dari Perancis, Belanda dan beberapa negara Eropa lainnya,” ujarnya.
Siti berharap pemerintah maupun berbagai pihak dapat membantu memperkenalkan kembali kerajinan Suram kepada generasi muda.
Menurutnya, pelestarian tidak cukup hanya dengan mempertahankan produk, tetapi juga harus memastikan keterampilan pembuatannya diwariskan.
“Desa ini sudah menjadi sentra gerabah Tam, sayang kalau sampai punah. Makanya perlu ada edukasi, mengumpulkan perajin dan anak muda setempat,” pungkasnya.







