Magis Messi dan Perlawanan Sengit
Di luar magis Messi, Argentina sebenarnya sempat kehabisan ide menembus pertahanan kokoh lawan. Bahkan, libero Tanjung Verde, Kevin Pina, menjadi pemain paling impresif di lapangan dalam waktu yang cukup lama.
Kebuntuan Argentina akhirnya pecah di menit ke-29.
Lisandro Martinez melepaskan umpan lambung akurat melewati lini belakang yang langsung mengarah ke kaki Messi.
Sang maestro yang kini berusia 39 tahun tersebut mengontrol bola dengan kaki luar kirinya sebelum melepaskan sepakan keras yang merobek jala Vozinha. Itu merupakan gol ke-20 Messi sepanjang enam edisi Piala Dunia yang telah diikutinya.
Sadar harus mencetak gol demi memperpanjang napas di Piala Dunia, Tanjung Verde langsung menggebrak setelah turun minum.
Duarte sempat melepaskan tembakan spekulasi yang memaksa Martinez melakukan penyelamatan sambil terbang.
Gol penyeimbang akhirnya lahir di menit ke-57. Sang kapten, Ryan Mendes, lolos di sisi kanan dan melepaskan umpan silang ke kotak penalti.
Bola disambut oleh Duarte, gelandang kelahiran Belanda tersebut, yang mengontrol bola dengan kaki kiri sebelum menghujamkan sepakan keras kaki kanan tanpa bisa dihalau Martinez.
Messi sejatinya punya peluang emas untuk membawa Argentina unggul kembali empat menit berselang saat berhadapan satu lawan satu dengan kiper, namun Vozinha tampil sigap memblok tembakan tersebut.
Vozinha kembali menjadi pahlawan di menit ke-72 dengan menepis tendangan bebas khas Messi.
Sepuluh menit kemudian, giliran bek Pico Lopes yang melakukan intervensi krusial untuk menggagalkan peluang emas Enzo Fernandez.
Meski akhirnya kalah secara dramatis di babak perpanjangan waktu, skuad Tanjung Verde dipastikan akan pulang ke negaranya sebagai pahlawan setelah berhasil menuliskan nama negara kepulauan kecil mereka dengan tinta emas di peta sepak bola dunia.(*)







