AMBON, JENDELAMALUKU.COM – Teori di bangku perkuliahan berhasil diwujudkan menjadi aksi nyata yang memukau oleh mahasiswa Program Studi Pariwisata Budaya dan Agama, Fakultas Ilmu Sosial Keagamaan, Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon.
Memasuki hari ketiga pelaksanaannya pada Jumat (3/7/2026), kawasan Gong Perdamaian Dunia Kota Ambon disulap menjadi ruang festival budaya yang megah dan profesional lewat gelaran tahunan “Gebyar Wisata Vol. 4”.
Hebatnya, festival berskala besar yang menargetkan hingga 5.000 pengunjung ini murni dirancang, dikelola, dan dieksekusi secara mandiri oleh mahasiswa semester 6.
Kegiatan ini merupakan luaran proyek (project output) dari mata kuliah Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE).
Selama kurang lebih tiga bulan sejak awal perkuliahan, para mahasiswa bertransformasi layaknya pelaku industri kreatif profesional.
Mereka menyusun konsep, merancang proposal, berburu sponsor, hingga membangun jaringan dengan berbagai media partner tanpa ketergantungan pada pihak ketiga.
Dosen Mata Kuliah MICE IAKN Ambon, Elviaty Tauran menjelaskan, industri MICE merupakan pilar penting di bawah sektor pariwisata yang melahirkan talenta di bidang Event Organizer (EO) hingga Wedding Organizer (WO).
Melalui proyek ini, mahasiswa tidak hanya sekadar mengejar nilai akademis, melainkan mengasah kompetensi nyata yang dibutuhkan dunia kerja.
“Diharapkan setelah event ini berjalan, mahasiswa mendapatkan skill terkait bagaimana mengkreasi sebuah event, mengelola emosi saat bertemu publik, serta mengasah manajemen kepemimpinan (leadership) mereka sendiri,” jelas Elviaty Tauran saat diwawancarai JendelaMaluku.com di sela-sela kegiatan.
Senada dengan hal itu, Project Manager Gebyar Wisata Vol. 4, Frisilia Pattiwaellapia, mengakui, terjun langsung ke lapangan memberikan ujian mental dan pelajaran berharga yang tidak ada di dalam buku teks.
“Tantangan terbesar saat berburu sponsor dan media partner adalah bagaimana kita dapat membangun kepercayaan mereka bahwa kegiatan Gebyar Wisata Vol. 4 ini layak didukung dan dapat memberikan manfaat bagi mereka,” ungkap Frisilia.
“Perbedaan yang sangat dirasakan antara teori MICE saat pembelajaran di kelas dan saat menghadapi dinamika di lapangan yaitu, di kelas kami hanya belajar sesuai teori dan saat di lapangan, semuanya bisa berubah sesuai kondisi dan harus direspon dan harus beradaptasi dengan cepat serta mencari solusi,” tambahnya.







