LANGGUR, JENDELAMALUKU.COM – Bupati Maluku Tenggara (Malra), Thaher Hanubun, mengeluarkan imbauan resmi yang mengajak seluruh orang tua, khususnya para ayah di wilayahnya, untuk mengantarkan anak-anak mereka secara langsung pada hari pertama masuk sekolah yang dijadwalkan serentak pada tanggal 13 Juli 2026 mendatang.
Langkah ini ditegaskan sebagai wujud nyata komitmen bersama dalam mendorong keterlibatan langsung figur ayah terhadap proses tumbuh kembang dan pengasuhan anak.
Dalam pernyataan resminya, Hanubun menekankan, pendidikan dan pembentukan karakter anak tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada ibu atau diserahkan kepada pihak sekolah saja.
Peran aktif seorang ayah di lingkungan keluarga adalah fondasi utama dalam mencetak generasi emas yang tangguh.
“Mari kita antar anak-anak kita di hari pertama masuk sekolah pada tanggal 13 Juli 2026 sebagai bentuk komitmen kita untuk terlibat langsung dalam pengasuhan dan tumbuh kembang anak demi masa depan yang cerah. Masa depan yang cerah dimulai dari lingkungan keluarga,” ajak Hanubun dalam pesan resminya kepada masyarakat Maluku Tenggara.
Menjawab Tantangan Budaya Patriarki dan Ketiadaan Figur Ayah
Ajakan khusus bagi para ayah dari Bupati Malra ini dinilai sangat sejalan dengan kampanye yang tengah digalakkan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Maluku.
Sebelumnya, Kepala Perwakilan BKKBN Maluku, Edi Setiawan, secara terbuka mengajak masyarakat untuk mendobrak budaya patriarki yang selama ini membebankan urusan domestik dan pengasuhan anak sepenuhnya kepada sosok ibu.
BKKBN mencatat bahwa keterlibatan emosional seorang ayah sejak dini sangat krusial. Berdasarkan data Pendataan Keluarga (PK) sementara tahun 2025, angka fenomena fatherless (ketiadaan peran nyata figur ayah) di Provinsi Maluku masih menyentuh angka yang cukup signifikan, yakni sebesar 22,5 persen.
Sementara itu, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) secara nasional turut mengonfirmasi baru sekitar 37,17 persen anak usia dini (0-5 tahun) yang mendapatkan pengasuhan bersama secara seimbang dari kedua orang tua kandungnya.
Mencegah Lahirnya “Strawberry Generation”
Ketidakhadiran secara psikologis dan emosional dari figur ayah dikhawatirkan dapat memicu lahirnya strawberry generation di Maluku, generasi yang tampak kreatif dan penuh gagasan dari luar, namun memiliki mentalitas yang rapuh, berdaya juang rendah, serta rentan mengalami gangguan kesehatan mental saat diperhadapkan pada tekanan dunia nyata.
Melalui momentum hari pertama masuk sekolah ini, Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara berharap para ayah tidak lagi absen dalam momen-momen penting anak. Kehadiran fisik dan emosional ayah di sekolah diharapkan mampu memberikan rasa aman, mendongkrak rasa percaya diri, sekaligus menumbuhkan kedisiplinan pada anak sejak dini.






