MalukuTual

Kerajinan Suram Tam di Ambang Kepunahan, Perajin Muda Kian Langka

×

Kerajinan Suram Tam di Ambang Kepunahan, Perajin Muda Kian Langka

Sebarkan artikel ini
22/8/2026 - Pengrajin-pengrajinnya Suram
Perajin Siti Johora Elwaan (60) membuat kerajinan gerabah tradisional atau Suram secara manual di Desa Tam, Kecamatan Tayando Tam, Kota Tual, Maluku. (JendelaMaluku.com - Megarivera Renyaan)

LANGGUR, JENDELAMALUKU.COMKerajinan gerabah tradisional atau yang dikenal masyarakat setempat sebagai Suram di Desa Tam, Kecamatan Tayando Tam, Kota Tual, Maluku, menghadapi persoalan serius.

Bukan karena kehilangan pasar, tetapi minimnya generasi muda yang bersedia meneruskan keterampilan tersebut.

Saat ini, hanya tersisa empat perajin yang masih aktif memproduksi gerabah secara manual.

Seluruhnya telah berusia di atas 50 tahun.

Kondisi itu membuat keberlangsungan kerajinan tradisional yang selama ini menjadi salah satu identitas Desa Tam semakin mengkhawatirkan.

Regenerasi perajin berjalan lambat karena sebagian besar anak muda lebih memilih pekerjaan di sektor pemerintahan yang dinilai menawarkan penghasilan lebih menjanjikan.

Salah satu perajin, Siti Johora Elwaan (60), mengatakan hampir tidak ada anak muda di desanya yang tertarik menekuni pembuatan Suram.

Baja Juga :  Pertamina Papua Maluku Sambut Hari Kemerdekaan dengan Doa dan Santunan Anak Yatim di Jayapura

“Tidak ada perajin muda sama sekali, mereka tentunya lebih tertarik ke pekerjaan yang lebih menjanjikan,” ungkap Siti, Kamis (20/8/2026).

22/8/2026 - Suram Tam
Kerajinan Suram atau gerabah tradisional hasil karya perajin Desa Tam, Kecamatan Tayando Tam, Kota Tual. (JendelaMaluku.com – Megarivera Renyaan)

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi ancaman nyata bagi kelestarian kerajinan gerabah Tam. Padahal, keterampilan membuat Suram telah diwariskan dan ditekuni masyarakat setempat selama puluhan tahun.

“Saya membuat Suram ini sejak tahun 1967 saat masih duduk di bangku sekolah. Suram yang dihasilkan berbagai bentuk, corak yang digambar pun beragam, namun kini nihil minat dari generasi muda,” tuturnya.

Siti menjelaskan, pembuatan Suram masih menggunakan cara tradisional dengan proses yang cukup panjang.

Tanah liat terlebih dahulu dicampur dengan sedikit pasir, kemudian diaduk hingga memiliki tekstur yang sesuai sebelum dibentuk menjadi berbagai jenis gerabah.

Baja Juga :  Ini Prosesi Penyambutan Adat Wali Kota dan Wakil Tual saat Tiba di Ohoi Dullah

Setelah dibentuk, permukaan gerabah diberi corak menggunakan bat mas atau batu merah yang diperoleh dari Desa Fadol. Gerabah kemudian diasap untuk mengeringkannya secara merata.

Proses pengasapan bisa berlangsung selama tiga hingga empat hari, bergantung pada kualitas kayu yang digunakan.

“Prosesnya panjang dan makan waktu lama, juga masih manual atau tradisional. Itu mungkin salah satu faktor yang membuat kurangnya peminat perajin muda terhadap pembuatan gerabah,” jelasnya.

Di sisi lain, nilai ekonomi kerajinan Suram juga dinilai belum cukup menarik bagi generasi muda.

Untuk ukuran kecil yang biasanya digunakan sebagai pot bunga, perajin menjualnya sekitar Rp25 ribu.

Baca artikel menarik lainnya dari JENDELAMALUKU.COM Di CHANNEL TELEGRAM