AMBON, JENDELAMALUKU.COM – Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas konflik sosial yang melibatkan warga Desa Lisabata dan Desa Patahue, Kecamatan Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB).
Atas nama Pemerintah Provinsi dan seluruh masyarakat Maluku, Gubernur Hendrik mengimbau kedua pihak untuk segera menghentikan pertikaian dan tidak melakukan tindakan yang memperluas eskalasi konflik.
“Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat Maluku, khususnya warga Desa Lisabata dan Desa Patahue, untuk menahan diri, menghentikan segala bentuk pertikaian, dan tidak melakukan aksi balas dendam,” ucap Hendrik Lewerissa dalam keterangan resminya.
Gubernur menggarisbawahi enam poin krusial dalam menyikapi pertikaian tersebut:
- Menahan Diri: Warga diminta menghentikan aksi saling serang maupun tindakan balas dendam.Waspada
- Hoaks: Masyarakat diminta tidak mudah terprovokasi oleh berita bohong (hoaks), ujaran kebencian, atau isu liar di media sosial yang sengaja disebarkan pihak tak bertanggung jawab.
- Bukan Konflik SARA: Gubernur menegaskan bahwa perselisihan ini murni dipicu oleh kesalahpahaman dan sama sekali tidak berkaitan dengan SARA. “Jangan ada yang membawa persoalan ini ke ranah kelompok, suku, atau agama yang dapat merusak tatanan persaudaraan di Maluku,” tegasnya.
- Dukungan Penegakan Hukum: Mempercayakan penuh penanganan keamanan serta penegakan hukum kepada TNI dan Polri, sekaligus mendukung tindakan tegas terhadap pelaku pengrusakan maupun dalang pemicu pertikaian.
- Mitigasi Dampak: Pemprov Maluku terus berkoordinasi dengan Pemkab Seram Bagian Barat untuk mengambil langkah cepat sesuai kewenangan guna menangani dan memitigasi dampak konflik.
- Dorong Dialog dan Musyawarah: Mengajak para tokoh agama, tokoh adat, pemuda, perempuan, dan pemerintah daerah setempat untuk duduk bersama mengedepankan dialog serta semangat kekeluargaan demi mengembalikan kedamaian.
Latar Belakang Konflik
Sebelumnya, bentrokan antara warga Desa Lisabata dan Desa Patahue pecah pada Jumat (11/9/2026).
Bentrok tersebut dipicu oleh kesalahpahaman menyusul insiden kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di area kebun salah satu warga di wilayah Tanjung, Dusun Sisiulu, Desa Nuniali.
Aksi saling serang tersebut berdampak fatal.
Sebanyak 27 rumah warga dan satu unit sepeda motor dilaporkan hangus terbakar.
Selain kerugian material, empat warga dari salah satu desa mengalami luka-luka akibat terkena tembakan senapan angin.
Saat ini, jajaran TNI dan Polri telah diterjunkan ke lokasi kejadian untuk melakukan penyekatan dan pengamanan guna mencegah bentrokan susulan, sembari memproses hukum pihak-pihak yang bertanggung jawab.(*)







