Kendati demikian, baik Ceferin maupun sejawatnya dari AFC (Sheikh Salman bin Ebrahim Al Khalifa dari Bahrain) dan CONCACAF (Victor Montagliani dari Kanada), diperkirakan tidak akan maju dalam bursa pencalonan kali ini.
Ceferin sejak lama menepis rumor bahwa dirinya akan mencalonkan diri sebagai Presiden FIFA, meski pada pertemuan UEFA di Yunani bulan lalu ia sempat menyebut ada “sangat banyak” kandidat potensial.
Montagliani sendiri diprediksi akan fokus pada pemilihan ulang dirinya di CONCACAF pada Februari mendatang.
Sementara itu, Sheikh Salman yang sempat menjadi rival utama Infantino dalam pemilu FIFA 2016 silam, belum menunjukkan sinyal untuk maju kembali.
Pilihan spekulatif sempat tertuju pada Presiden Paris Saint-Germain, Nasser Al-Khelaifi, yang dikenal sebagai sekutu dekat Ceferin.
Namun, anggota Komite Eksekutif UEFA asal Qatar tersebut pekan lalu telah membantah rumor tersebut dalam pertemuan Asosiasi Klub Eropa (ECA) yang dipimpinnya.
Persoalan kepemimpinan Infantino menjadi salah satu fokus utama dalam agenda bisnis dua tahunan UEFA di Berlin, tempat para eksekutif puncak federasi berkumpul untuk mendiskusikan kebijakan, strategi, dan kompetisi sepak bola internasional.
Pertemuan penting ini diperkirakan akan menghasilkan proposal tuntutan tata kelola FIFA yang lebih transparan, sekaligus menetapkan figur calon presiden yang berkomitmen penuh pada agenda reformasi tersebut.







