JAKARTA, JENDELAMALUKU.COM – Berbagai cara terus dikerahkan Pemerintah Singapura demi mengatasi krisis populasi yang kian mengkhawatirkan.
Mulai dari mengucurkan subsidi tunai hingga ratusan juta rupiah untuk setiap anak, hingga terbaru: meluncurkan aplikasi kencan khusus Aparatur Sipil Negara (ASN) berbasis algoritma peraih Hadiah Nobel.
Langkah-langkah tak biasa ini diambil setelah angka kelahiran (fertility rate) di negara tetangga Indonesia tersebut merosot ke rekor terendah sepanjang sejarah, yakni 0,87 pada tahun 2025.
Sepanjang tahun lalu, tercatat kurang dari 30.000 bayi lahir di Singapura.
Bikin Aplikasi Kencan Khusus Pegawai Pemerintah
Inovasi terbaru ditunjukkan oleh badan teknologi Singapura, GovTech, yang meluncurkan aplikasi kencan bernama FirstDate.
Platform ini sedang diuji coba khusus bagi pegawai pemerintah lajang berusia 21 hingga 35 tahun.
Untuk menjamin keamanan dan kecocokan, peserta mendaftar menggunakan identitas digital nasional (National Digital ID) dan mengisi survei mengenai minat, kebiasaan, serta nilai hidup mereka.
Menariknya, FirstDate tidak menggunakan sistem usap (swipe) seperti Tinder atau Bumble.
Aplikasi ini mengandalkan algoritma Gale-Shapley, metode perjodohan matematis yang mengantarkan matematikawan Lloyd Shapley meraih Nobel Ekonomi pada 2012.
Sistem ini hanya mempertemukan pengguna dengan satu calon pasangan yang dinilai paling cocok dalam satu waktu.
“Pendekatan ini lebih mirip perjodohan luring (offline). Aksi menggeser profil tanpa henti digantikan oleh satu jodoh yang paling pas,” jelas Jean Liu, Asisten Profesor Psikologi di Singapore Institute of Technology.
Gelar Subsidi Ratusan Juta Rupiah per Anak
Upaya menciptakan “biro jodoh digital” ini melengkapi amunisi finansial yang sudah digelontorkan pemerintah.
Pada Agustus lalu, Perdana Menteri Lawrence Wong mengumumkan paket bantuan keuangan bernilai hingga 70.000 dolar Singapura (sekitar Rp800-an juta) untuk setiap anak sejak lahir hingga berusia 17 tahun.
Bagi Singapura, yang enam juta warganya merupakan satu-satunya sumber daya utama negara, ancaman penyusutan dan penuaan populasi adalah masalah eksistensial.
Wakil Perdana Menteri Gan Kim Yong sebelumnya memperingatkan bahwa tanpa intervensi drastis, jumlah warga negara Singapura akan mulai menyusut pada awal dekade 2040-an.
Dampaknya, jumlah tenaga kerja muda tidak akan cukup untuk menopang dan merawat populasi lansia.
Campur Tangan Negara dan Realita Biaya Hidup
Intervensi pemerintah Singapura dalam urusan asmara sebenarnya bukan hal baru.







