BuruMaluku

Dari Tak Dipilih Tim SMP hingga Tampil di Proliga, Perjuangan Anak Namlea Menembus Voli Nasional

×

Dari Tak Dipilih Tim SMP hingga Tampil di Proliga, Perjuangan Anak Namlea Menembus Voli Nasional

Sebarkan artikel ini

Voli Nasional

Ia hanya bermodalkan kemampuan bermain voli, keberanian, kerja keras dan keyakinan bahwa sebuah mimpi harus diperjuangkan.

Di Ambon, Pius mengikuti berbagai pertandingan antarklub hingga kemudian bergabung dengan Klub Yarden di Laha yang berada di bawah pembinaan Pak Man.

Melihat potensi yang dimilikinya, Pius diberi kesempatan berlatih dan bergabung dengan klub tersebut tanpa biaya.

Kesempatan itu dimanfaatkannya sebaik mungkin.

Latihan dijalani dari hari ke hari, sementara berbagai pertandingan menjadi tempat baginya mengasah kemampuan dan menambah pengalaman.

Perlahan, kemampuan Pius mulai mendapat perhatian di lingkungan voli Maluku.

Ia kemudian dipercaya memperkuat tim voli Provinsi Maluku dalam persiapan menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON).

Setelah menjalani pemusatan latihan di Ambon, Pius bersama tim mengikuti Pra-PON di Manado pada 1992.

Kompetisi tersebut menjadi titik balik berikutnya.

Baja Juga :  Peternak di Desa Waiperang-Buru Rugi hingga Rp 1 Miliar, Sapi Peliharaannya Dicuri dengan Cara Diracuni

Dari Manado, Namanya Sampai ke Jakarta

Penampilan Pius di Pra-PON Manado ternyata menarik perhatian pelatih Pelita Jaya Jakarta.

Kesempatan itu menjadi pintu yang membawanya keluar dari Maluku dan masuk ke lingkungan persaingan voli yang jauh lebih besar.

Pada Oktober 1993, Pius berangkat ke Jakarta.

Untuk pertama kalinya, anak Namlea tersebut harus beradaptasi dengan dunia olahraga profesional yang penuh persaingan.

Ia bergabung dengan Pelita Jaya selama sekitar enam bulan.

Namun, perjalanan kembali menghadapkan Pius pada situasi yang tidak mudah. Ketika klub tersebut bubar, ia tidak memilih pulang atau berhenti.

Ia melanjutkan perjalanan bersama Popsivo.

Di tengah perjalanan sebagai atlet, babak baru juga dimulai.

Pius mengikuti proses penerimaan anggota Polri dan berhasil bergabung dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Sejak saat itu, dua dunia harus dijalaninya sekaligus: menjadi anggota Polri dan tetap mempertahankan kecintaannya terhadap bola voli.

Baja Juga :  Pempus Gelontorkan 250 Miliar Bangun Sekolah Rakyat di Kota Tual Maluku

Gagal ke PON, tetapi Tidak Berhenti

Pius kemudian tidak hanya bermain voli indoor.

Ia mencoba tantangan lain melalui cabang voli pantai.

Pada 1996, ia dipercaya mewakili DKI Jakarta dalam Pra-PON Voli Pantai di Yogyakarta.

Ia berhasil melewati tahapan Pra-PON dan membuka peluang untuk tampil di PON. Namun, kesempatan tersebut kembali terhenti di tahap seleksi akhir.

Pius gagal mendapatkan tempat untuk tampil di PON.

Bagi seorang atlet, kegagalan seperti itu tentu bukan perkara mudah.

Tetapi pengalaman tersebut justru semakin membentuk mentalnya.

Ia memahami bahwa perjalanan seorang atlet tidak selalu berisi kemenangan.

Ada kalanya seseorang harus menerima kekalahan, mengevaluasi diri, kemudian kembali berjuang.

Baca artikel menarik lainnya dari JENDELAMALUKU.COM Di CHANNEL TELEGRAM