Prinsip itulah yang terus dibawanya dalam perjalanan berikutnya.
Trofi Livoli Membuka Jalan ke Proliga
Setelah Popsivo bubar, Pius kembali mencari klub yang dapat menjadi tempatnya melanjutkan karier.
Ia kemudian bergabung dengan Klub Mabes TNI dan kembali menjalani berbagai kompetisi voli di Jakarta.
Salah satu momentum terbesar dalam kariernya terjadi ketika ia bersama Mabes TNI tampil di Livoli.
Kerja keras dan konsistensi yang selama bertahun-tahun dijaganya akhirnya berbuah prestasi. Mabes TNI berhasil menjadi juara pertama Livoli.
Gelar tersebut menjadi salah satu pencapaian penting sekaligus membuka jalan Pius menuju level kompetisi yang lebih tinggi.
Kesempatan tampil di Proliga akhirnya datang.
Pius dipercaya memperkuat Jakarta Patriot dalam kompetisi voli tertinggi di Indonesia tersebut.
Dari Namlea, ia akhirnya sampai di panggung yang mungkin dahulu hanya bisa dibayangkan ketika masih bermain di lapangan sekolah.
Perjalanannya bahkan berlanjut hingga mengikuti seleksi Pelatnas.
Tetap Mengabdi sebagai Polisi
Menariknya, perjalanan Pius sebagai atlet tidak pernah membuat tugasnya sebagai anggota Polri ditinggalkan.
Sejak menjadi anggota Polri pada 1995, ia tetap menjalankan tanggung jawab kedinasan.
Kini, Pius bertugas di Polresta Tangerang, Banten, sebagai Kanit Lantas.
Di luar tugas kepolisian dan aktivitas olahraga, ia juga menjalani peran sebagai kepala keluarga.
Pius menikah dengan Ratna Prihatin dan dikaruniai seorang anak, Katarina Zein Angelica Janwarin.
Bagi Pius, menjadi polisi dan atlet bukanlah dua pilihan yang harus dipertentangkan. Keduanya dapat dijalankan selama ada kedisiplinan, komitmen dan kemampuan mengatur waktu.
Dari Namlea, Sebuah Mimpi Bisa Menjadi Kenyataan
Kisah Pius bukan semata tentang seorang atlet yang berhasil tampil di Proliga.
Lebih dari itu, perjalanannya menunjukkan bagaimana kegagalan pada usia muda tidak harus menjadi alasan untuk berhenti bermimpi.
Ia pernah tidak terpilih masuk tim voli SMP.
Ia pernah meninggalkan kampung halaman dengan modal sederhana.
Ia pernah gagal menembus skuad PON.
Bahkan, dalam perjalanan kariernya, ia harus menghadapi klub yang bubar dan kembali mencari jalan untuk melanjutkan karier.
Namun setiap kali satu pintu tertutup, Pius memilih mencari pintu berikutnya.
Hasilnya, anak Namlea itu mampu meraih gelar juara Livoli, tampil di Proliga dan mengikuti seleksi Pelatnas, sembari menjalankan tugas sebagai anggota Polri.
Perjalanan tersebut menjadi pesan bagi generasi muda Maluku bahwa keterbatasan tempat asal bukanlah batas bagi sebuah cita-cita.







