Dengan kapasitas 75 kWp dan dukungan baterai, Eniya berharap kebutuhan listrik masyarakat dapat terpenuhi sepanjang hari sehingga aktivitas ekonomi di Pulau Tiga semakin berkembang.
“Dengan adanya PLTS berkapasitas 75 kWp yang dilengkapi baterai, kami berharap kebutuhan listrik masyarakat dapat terpenuhi selama 24 jam. Dengan demikian, perekonomian masyarakat setempat diharapkan dapat terus tumbuh dan berkembang,” ujar Eniya.
Tak hanya memulihkan fungsi pembangkit, program revitalisasi juga mencakup peningkatan kapasitas masyarakat.
Warga diberikan pelatihan terkait pemanfaatan dan perawatan fasilitas PLTS serta penggunaan listrik secara baik dan berkelanjutan.
Eniya menyebut konsep PLTS Pulau Tiga berpotensi menjadi model pengembangan pembangkit energi surya di wilayah terpencil dan terluar, termasuk dalam mendukung program pengembangan 100 GW PLTS.
Sementara itu, Programme Lead NZMates, Grant Deeney, menjelaskan bahwa PLTS Pulau Tiga sebelumnya telah tersedia, tetapi tidak dapat beroperasi akibat gangguan pada sejumlah peralatan.
Kondisi tersebut menyebabkan masyarakat kembali bergantung pada pembangkit diesel dengan layanan listrik yang terbatas.
Setelah dilakukan revitalisasi bersama PLN dan Kementerian ESDM, kondisi tersebut berubah.
Energi surya kini menjadi sumber utama listrik masyarakat, sedangkan pembangkit diesel hanya digunakan sebagai cadangan ketika produksi listrik dari PLTS berkurang.
“Secara keseluruhan, ini merupakan hasil yang sangat baik bagi masyarakat, berkat kerja keras seluruh tim,” ujar Grant.
Keberadaan listrik 24 jam di Pulau Tiga diharapkan memberi dampak lebih luas bagi masyarakat, mulai dari mendukung aktivitas rumah tangga, kegiatan nelayan dan pelaku usaha, hingga membuka peluang ekonomi baru.
Pengoperasian kembali PLTS Pulau Tiga sekaligus menunjukkan bahwa pemanfaatan energi bersih dapat menjadi solusi untuk menghadirkan layanan listrik yang lebih andal di wilayah kepulauan, tanpa sepenuhnya bergantung pada pembangkit berbahan bakar diesel.(*)







