Ambon

Masjid Al-Fatah dan Gereja Joseph Kam Jadi Pusat Penguatan Moderasi Beragama di Ambon

×

Masjid Al-Fatah dan Gereja Joseph Kam Jadi Pusat Penguatan Moderasi Beragama di Ambon

Sebarkan artikel ini

Literasi Keagamaan

28/11/2025 - LKLB
LKLB: Guru lintas agama mengikuti sesi dialog di Masjid Raya Al-Fatah Ambon dalam rangka Trip Moderasi Beragama dan LKLB untuk memperkuat toleransi dan kerukunan. (JendelaMaluku.com - Isro Belen)

AMBON, JENDELAMALUKU.COM — Upaya memperkuat moderasi beragama di Kota Ambon kembali digaungkan melalui kegiatan Trip Moderasi Beragama yang diikuti puluhan guru lintas agama, Kamis (27/11/2025).

Program Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) ini difasilitasi Institut Leimena bersama Yayasan Al-Fatah dan Yayasan Sombar Negeri Maluku, dengan tujuan memperluas ruang dialog dan membangun pemahaman lintas iman di kalangan pendidik.

Kegiatan diawali dengan dialog di Masjid Raya Al-Fatah yang disambut hangat oleh Ketua Yayasan Al-Fatah, Ustadz Hadi Basalamah. Ia menegaskan pentingnya kebersamaan antara komunitas Muslim (Salam) dan Kristen (Sarani) di Ambon.

Baja Juga :  Akreditasi Perpustakaan di Ambon: Langkah Maju yang Terlambat?

“Meski tidak mudah, kami berusaha terus membangun kehidupan harmonis. Kami berharap generasi sekarang tidak lagi mengalami konflik masa lalu,” ujarnya.

Para peserta kemudian diajak mengelilingi masjid yang telah menjadi simbol kerukunan di Ambon.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama untuk memperkuat semangat perdamaian.

Rangkaian kunjungan dilanjutkan ke Gereja Joseph Kam.

28/11/2025 -
LKLB: Guru Ambon mengunjungi Gereja Joseph Kam sebagai bagian dari program pertukaran pengalaman lintas agama. (JendelaMaluku.com – Isro Belen)

Ketua Majelis Jemaat, Pendeta Zeth J. Sahertian menekankan, ajaran Kristen menempatkan cinta damai sebagai nilai utama.

“Konflik seharusnya tidak lagi terjadi di Ambon. Kita dipanggil untuk menjaga tali persaudaraan,” katanya.

Wakil Sekretaris Jemaat, Zamry Susmani menambahkan, gereja sudah lama menjalankan program perdamaian berbasis komunitas, termasuk pertukaran pengalaman tinggal semalam di rumah keluarga Muslim maupun Kristen.

Baja Juga :  Gotong Royong Cegah Korupsi, Negeri Lama Berhasil Sandang Predikat Desa Replika Anti Korupsi

“Program ini menjadi fondasi kuat kerukunan di Maluku,” jelasnya.

Direktur Program Institut Leimena, Daniel Adipranata, menilai dialog langsung seperti ini krusial untuk menangkal misinformasi yang banyak beredar di media sosial.

“Banyak informasi keliru tentang agama lain. Karena itu dialog langsung sangat penting,” ujarnya.

Ia berharap para guru dapat membawa nilai-nilai persaudaraan ini ke lingkungan pendidikan, sehingga upaya merawat kerukunan dapat terus berlanjut di generasi muda.(*)

Baca artikel menarik lainnya dari JENDELAMALUKU.COM Di CHANNEL TELEGRAM