AMBON, JENDELAMALUKU.COM – Yayasan Jantong Hati tahun ini memperluas jangkauan Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 HAKTP) dengan turun langsung ke desa-desa.
Ketua Yayasan Jantong Hati yang juga anggota DPD RI, Anna Latuconsina, mengatakan langkah itu dipilih karena masih banyak perempuan pada level akar rumput yang belum memahami bahwa mereka dilindungi UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS) dan UU Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (PKDRT).
“Banyak perempuan di desa yang belum tahu bahwa negara melindungi mereka melalui dua regulasi penting itu. Karena itu, tahun ini kami lebih fokus menyasar kelompok paling rentan,” ujar Anna kepada JendelaMaluku.com, Kamis (4/12/2025).

Kampanye 16 HAKTP merupakan kampanye global yang berlangsung setiap 25 November hingga 10 Desember untuk meningkatkan kesadaran publik tentang upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan.
Di Indonesia, kampanye ini rutin dilaksanakan berbagai lembaga, termasuk Yayasan Jantong Hati yang bergerak pada isu perempuan sejak 2004.
Pada 30 November 2025, Anna lebih dulu menggelar kegiatan serupa tingkat Kota Ambon dengan tema “Suara Perempuan, Suara Perubahan: Menghapus Stigma dan Normalisasi Kekerasan.”
Menurutnya, kegiatan itu menjadi ruang awal untuk menguatkan suara perempuan di wilayah perkotaan.
Kampanye kemudian diperluas ke desa-desa dengan tema “Mencegah Kekerasan Berbasis Gender dan Membangun Pola Asuh Positif pada Lingkungan Keluarga.”
Anna menjelaskan fokus akar rumput dipilih karena kekerasan tidak hanya terjadi di ruang publik, tetapi juga di lingkup keluarga dan komunitas yang sering kali tidak terpantau.
Ia turut menyinggung maraknya kekerasan berbasis digital yang berawal dari interaksi di media sosial hingga berujung pada kekerasan fisik.
“Kami ingin edukasi ini membuka mata perempuan desa bahwa mereka punya hak, punya perlindungan, dan tidak sendiri,” tegasnya.(*)






