“Selain itu, ibu saya tidak berhasil ke sini karena masalah visa. Uang untuk visa tidak bisa kami penuhi tepat waktu, dan saya sangat ingin dia ada di sini,” ungkapnya.
Fase awal turnamen ini memang telah diganggu oleh masalah imigrasi, termasuk wasit asal Somalia, Omar Artan, yang dilarang memasuki AS untuk memimpin pertandingan Piala Dunia.
Sejumlah staf kepelatihan Iran juga ditolak visanya oleh AS, ditambah dengan aturan perjalanan ketat yang diberlakukan pada skuad mereka, yang akhirnya memindahkan markas latihan mereka ke Meksiko.
Bagi negara-negara kecil di Piala Dunia, tingginya biaya perjalanan, akomodasi, dan tiket juga menjadi kendala besar bagi masyarakat yang ingin menghadiri turnamen, menurut Mario Semedo, presiden federasi sepak bola nasional Tanjung Verde.
“Tidak mudah bagi warga yang tinggal di Tanjung Verde untuk bepergian ke Piala Dunia. Tiket pesawat, akomodasi, dan tiket pertandingan semuanya membutuhkan biaya yang sangat besar,” katanya kepada kantor berita Reuters.
“Tentu ada cara untuk mengatasi kekhawatiran imigrasi sekaligus menciptakan kondisi yang memungkinkan suporter untuk bepergian. Jika anggota keluarga pemain, misalnya, ingin menghadiri turnamen, segala upaya harus dilakukan untuk memfasilitasinya.”(*)







