Opini

Kurban dan Perlawanan terhadap Kejahatan di Balik Topeng Dogma

×

Kurban dan Perlawanan terhadap Kejahatan di Balik Topeng Dogma

Sebarkan artikel ini

Idul Adha 1447 H

27/5/2026 - Fadhly Azhar
OPINI: Fadhly Azhar (ASN Ditjen Pendidikan Islam)

Orang-orang tidak menyerah karena mereka terikat, tetapi karena menolak membuat mereka merasa bersalah.

Manipulasi semacam ini dalam ranah keagamaan jauh lebih merusak dan cenderung menista nilai suci agama.

Sebab yang dipertaruhkan bukan hanya rasa aman korban, tetapi juga hubungan batin mereka dengan Tuhan.

Kekerasan seksual yang berakar pada relasi kuasa yang timpang sering meninggalkan luka spiritual yang mendalam pada para korbannya.

Dan mereka kemudian kehilangan keyakinan bukan hanya pada sesama manusia, melainkan juga pada institusi itu sendiri yang seharusnya menjaga mereka tetap aman.

Sebagian korban belajar untuk mengembangkan keengganan terhadap simbol-simbol kesalehan, karena apa yang mereka lihat justru berakhir menjadi ironi karena mulut yang mengajarkan moralitas ternyata juga menjadi alat untuk manipulasi.

Baja Juga :  Bulan K3 Nasional 2026, PLN UIW MMU Perketat Budaya Keselamatan Kerja hingga Vendor

Karena itu, makna kurban hari ini tidak cukup dipahami sebagai ritual distribusi daging kepada kaum miskin.

Kurban harus dibaca sebagai keberanian moral untuk menyembelih “berhala modern” yang bersembunyi di balik institusi, karisma, dan absolutisme tafsir. Berhala itu bernama kultus individu berlebihan.

Berhala itu bernama kekebalan moral. Berhala itu bernama otoritas tanpa pengawasan.

Dalam tradisi Islam, Nabi Muhammad justru memperlihatkan model kepemimpinan yang anti-pemujaan.

Beliau menolak diperlakukan secara berlebihan. Bahkan ketika ada sahabat yang gemetar di hadapannya, Nabi berkata, “Tenanglah, aku bukan raja.”

Kalimat sederhana ini menyimpan pesan etis yang sangat besar: kekuasaan spiritual tidak boleh menciptakan ketakutan psikologis.

Sayangnya, dalam sebagian praktik sosial keagamaan hari ini, relasi guru dan murid terkadang sering menjadi relasi yang terlalu hierarkis dan tertutup.

Baja Juga :  Kenapa Mesti Hari Kartini?

Kritik dianggap dosa. Ketaatan dimaknai sebagai kepatuhan total.

Padahal ruang yang tidak memberi kesempatan bertanya adalah ruang yang rawan melahirkan penyimpangan.

Kita perlu membedakan antara penghormatan dan pengultusan. Menghormati guru adalah akhlak; tetapi menutup mata terhadap kesalahan atas nama adab adalah awal dari kerusakan.

Iduladha mengajarkan bahwa cinta kepada Tuhan harus melahirkan keberanian etis, bukan kepatuhan buta kepada manusia.

Bahkan Ibrahim sendiri diuji bukan sekadar tentang pengorbanan, tetapi tentang kemampuan melepaskan keterikatan emosional dan ego kekuasaan.

Maka siapa pun yang menggunakan agama untuk menundukkan tubuh orang lain, memanipulasi murid, atau mengeksploitasi korban yang lemah, sesungguhnya telah gagal memahami makna kurban.

Baca artikel menarik lainnya dari JENDELAMALUKU.COM Di CHANNEL TELEGRAM