Sebab Tuhan tidak pernah membutuhkan tubuh korban manusia untuk memuliakan agama-Nya.
Al-Qur’an menegaskan dalam surah Al-Hajj ayat 37: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaanmulah yang sampai kepada-Nya.” Ayat ini mengingatkan bahwa yang utama bukan simbol ritual, melainkan kualitas moral yang lahir darinya. Dan ketakwaan sejati tidak mungkin berdiri di atas penderitaan korban yang dibungkam.
Karena itu, perayaan kurban semestinya juga menjadi momentum untuk membersihkan institusi keagamaan dari budaya tutup mulut terhadap kekerasan seksual.
Membela korban bukan tindakan melawan agama, melainkan justru bentuk penyelamatan nilai agama dari penyalahgunaan kuasa.
Agama akan kehilangan cahaya ketika dipakai melindungi pelaku.
Sebaliknya, agama akan menemukan kemuliaannya ketika berdiri di pihak yang lemah, yang terluka, dan yang suaranya selama ini dipaksa diam.
Pada akhirnya, hewan yang paling layak disembelih pada Hari Raya Kurban bukanlah kambing atau sapi, melainkan ego manusia yang merasa dirinya suci sehingga berhak menguasai tubuh dan martabat orang lain. Sebab dari ego semacam itulah lahir kejahatan yang mengenakan topeng kesalehan.
Fadhly Azhar (ASN Ditjen Pendidikan Islam) – via Kemenag







