JENDELAMALUKU.COM – Darah hewan-hewan kurban mengalir setiap Hari Raya Iduladha di halaman masjid, lingkungan pondok pesantren, dan di sudut-sudut di desa.
Namun, sesungguhnya bentuk pengorbanan yang paling intens bukanlah mengorbankan hewan.
Pengorbanan adalah disiplin batin yang memotong ego manusia yang paling mematikan: kehendak dalam diri Anda untuk memaksakan orang lain, melalui paksaan atau bujukan—beralasan pada perkara-perkara yang oleh sebagian disebut dan diproklamasikan sebagai kebenaran, pembenaran negara.
Di sinilah seseorang seharusnya membaca ulang kisah Nabi Ibrahim karena kisah itu menjadi sepenuhnya relevan.
Tetapi ia tidak dibesarkan untuk menjadi sosok yang akan tunduk tanpa syarat kepada otoritas kekuasaan.
Justru sebaliknya, ia sedang dididik untuk membedakan antara suara ketuhanan dan bisikan ego yang menyamar sebagai kesalehan.
Sejarah manusia telah memastikan kepada kita—dalam suatu dongeng yang tidak bisa kita sebutkan—bahwa kebiadaban terburuk tidak datang dengan taring ternganga, melainkan dibalut dalam jubah-jubah yang dianggap suci, mantra moral, dan dogma yang seolah benar.
Secara sederhana, pengorbanan dalam kisah kurban adalah penolakan terhadap kecenderungan manusia untuk menyembah dirinya sendiri.
Kejahatan tidak lahir dari ketiadaan agama dalam kebanyakan kasus, melainkan dari penyalahgunaan agama sebagai pembenaran untuk kekuasaan.
Ketika seseorang yang memiliki kuasa dogma merasa dirinya paling suci, yang paling benar, dan paling dekat dengan Tuhan—sehingga seseorang merasa dirinya mendapatkan pembenaran.
Di saat itulah godaan yang kejam muncul untuk mendominasi tubuh, pikiran, bahkan martabat seseorang yang berada pada relasi kuasa yang timpang sehingga hubungan spiritual berubah menjadi hubungan dominasi.
Fenomena ini kita lihat dalam berbagai jenis kasus pelecehan seksual oleh figur-figur otoritas: para guru, pemimpin komunitas keagamaan, bahkan pengasuh di sekolah-sekolah agama.
Ketika pelaku memiliki benteng dogma untuk bersembunyi, para korban sering kali tidak berani melawan.
Pelaku tersebut tidak hanya menguasai ruang sosial, tetapi juga menguasai penafsiran moral.
Pelaku menanam benih ketakutan bahwa melawan dirinya sama saja dengan melawan iman dan ketaatan.
Dan di sinilah kekuasaan menjadi yang paling berbahaya dari semuanya: ketika ia menyamar sebagai sesuatu yang suci.
Michel Foucault telah memperingatkan kita bahwa kekuasaan tidak terutama bekerja melalui kekerasan yang terlihat jelas, melainkan melalui pemanfaatan suara hati.







