LEIHITU, JENDELAMALUKU.COM – Sisa kepala ikan, tulang, sisik, hingga jeroan hasil tangkapan nelayan di kawasan pesisir kerap berakhir menjadi tumpukan sampah yang membusuk di bibir pantai atau dibuang begitu saja ke laut.
Selain memicu bau tak sedap dan merusak pemandangan, kebiasaan ini membuat bahan yang sebenarnya bernilai guna terbuang sia-sia.
Menjawab persoalan tersebut, tim pengabdian masyarakat dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) berkolaborasi dengan STIKes Maluku Husada menggelar program edukasi dan pendampingan di Negeri Lima dan Negeri Ureng, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah.
Lewat program bertajuk penyuluhan pengelolaan limbah berbasis ekonomi sirkular ini, warga pesisir didorong untuk mengubah pola pikir: dari sekadar membuang limbah menjadi memilah, mengolah, dan memanfaatkannya kembali sebagai sumber pendapatan baru.
Dari Sampah Menjadi Nilai Ekonomi dan Kesehatan Lingkungan
Ketua Tim Pengabdian FEB UI, Dr. Vera Diyanty menjelaskan, ekonomi sirkular pada prinsipnya mengubah pola konsumsi linear dengan mengambil, menggunakan, lalu membuang—menjadi siklus penanganan yang berkelanjutan.
Dalam konteks masyarakat Leihitu yang mayoritas mengandalkan tangkapan ikan tuna dan momar, limbah perikanan tersebut memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk bernilai tambah seperti pupuk organik, pakan ternak, hingga bahan turunan lainnya.
Namun, Dr. Vera menegaskan, transisi ini tidak harus dimulai dengan teknologi canggih atau peralatan yang mahal.
“Perubahan dapat dimulai dari empat langkah sederhana: pilah, kumpulkan, jaga kebersihan, dan catat,” ucap Dr. Vera di sela-sela kegiatan.
Langkah awal berupa disiplin memisahkan sisa ikan dari sampah plastik serta menjaga kebersihan area kerja menjadi fondasi penting sebelum masuk ke tahap pengolahan skala industri.
Senada dengan hal tersebut, Ketua STIKes Maluku Husada, Dr. Apt. Lukman La Basy, S.Farm., M.Sc., menyoroti pentingnya pengelolaan limbah perikanan dari sudut pandang kesehatan lingkungan dan sanitasi kawasan pesisir.
“Limbah ikan yang dibiarkan membusuk tanpa pengelolaan yang baik tidak hanya merusak keindahan pantai, tetapi juga berdampak langsung pada kualitas kesehatan masyarakat pesisir. Melalui kolaborasi ini, kami ingin memastikan bahwa pemanfaatan limbah tidak cuma memberikan nilai tambah secara ekonomi, tetapi juga menciptakan lingkungan hidup yang lebih bersih, higienis, dan sehat bagi warga Negeri Lima dan Negeri Ureng,” sebut Lukman.
Fakta Lapangan dan Kendala Nelayan







