TUAL, JENDELAMALUKU.COM – Film dokumenter Pesta Babi terus menjadi perhatian publik setelah dibubarkan dan menjadi viral di jagad maya.
Film yang mengangkat perjuangan masyarakat adat Papua itu kini mulai diputar melalui agenda nonton bareng (nobar) di sejumlah komunitas dan organisasi.
Di Kota Tual, Provinsi Maluku, pemutaran film tersebut sebelumnya tdigelar di Cafe 21 tanah putih. Jumat (15/5/2026), pukul 19:20 WIT.
Pantauan Media ini, antuasisme pemonoton cukup tinggi, yang terdiri dari aktivis di Kota Tua dan Kabuoaten Maluku Tenggara.
Pelataran Cafe 21 dipenuhi puluhan motor, yang mengular.
Saking antusiasnya penonton yang tidak kebagian tempat duduk, pun rela berdiri demi menontin dokumenter yang tengah popuoer di masyarakat ini.
Nobar ini di inisiasi oleh Gerakan Edukasi Perempuan Kei (GEP) Kei dan Koma.
Antusiasme peserta nobar disebut cukup tinggi karena film ini menyoroti isu lingkungan, masyarakat adat, dan dampak pembangunan di Papua.
Kegiatan ini baru dimulai sekira pukul 20:58 WIT.
Diawali dengan pemutaran film dokumenter kemudian akan dilanjutkan dengan diskusi yang menampilkan narasumber.
– Rofiko Rahayu Kabalmay (pegiat literasi)
Inisiator Gerakan Seibu buku
– Ye Husein Alhamid
Presiden Koma
– Fikram Rettob
Pascasarjana Glasgow Univeristy
Dipandu Moderator
– Ima Sarah Reliubun
Film Pesta Babi mengisahkan kehidupan masyarakat adat di selatan Papua yang menghadapi masuknya proyek industri dan program strategis nasional di wilayah mereka.
Cerita dimulai ketika kapal-kapal besar membawa alat berat untuk mendukung proyek pangan dan energi, seperti biodiesel sawit dan bioetanol tebu, yang masuk ke kawasan hutan Papua.
Melalui dokumenter tersebut, penonton diajak melihat bagaimana pembangunan yang disebut membawa kemajuan justru memunculkan keresahan bagi masyarakat adat yang hidup bergantung pada hutan dan tanah leluhur mereka.
Film ini juga memperlihatkan berbagai bentuk penolakan warga, mulai dari pemasangan palang adat, simbol salib raksasa, hingga munculnya gerakan masyarakat yang menolak masuknya perusahaan dan aparat ke tanah adat mereka.
Tak hanya menampilkan konflik pembangunan, film ini juga menggambarkan hubungan kuat masyarakat Papua dengan alam dan tradisi mereka. Istilah “pesta babi” dalam budaya Papua sendiri dikenal sebagai simbol kehormatan, persaudaraan, dan kebersamaan, yang kemudian digunakan sebagai gambaran eratnya hubungan masyarakat adat dengan tanah mereka.
Berbeda dengan film pada umumnya, Pesta Babi tidak tayang di bioskop dan hanya diputar melalui agenda pemutaran bersama atau nobar di berbagai daerah. Sejak pertama kali tayang di Taman Ismail Marzuki pada April 2026, film tersebut terus berkeliling ke berbagai kota dan komunitas di Indonesia.







