Ambon

Delegasi Bangsamoro Pelajari Praktik Inklusivitas dan Kerukunan Beragama dari Ambon

×

Delegasi Bangsamoro Pelajari Praktik Inklusivitas dan Kerukunan Beragama dari Ambon

Sebarkan artikel ini

Literasi Keagamaan

28/11/2025 - Bangsamoro
AMBON: Delegasi Bangsamoro mengunjungi Gereja Joseph Kam sebagai bagian dari trip moderasi beragama. (JendelaMaluku.com - Isro Belen)

AMBON, JENDELAMALUKU.COM — Kegiatan Trip Moderasi Beragama di Ambon tidak hanya diikuti oleh guru-guru lokal, tetapi juga delegasi internasional dari Ministry of Basic, Higher, and Technical Education (MBHTE) Bangsamoro Autonomous Region in Muslim Mindanao (BARMM), Filipina.

Kehadiran mereka menjadikan Ambon sebagai model penting pembelajaran inklusivitas dan kohesi sosial di Asia Tenggara.

Meriam Macalangcom, Curriculum Consultant MBHTE, mengatakan kunjungan ini merupakan kelanjutan kerja sama dengan Institut Leimena sejak Juli lalu.

Ia menjelaskan, Bangsamoro tengah mengembangkan pendekatan sekolah inklusif dan melihat Indonesia sebagai rujukan utama, terutama dalam menerima keragaman agama.

“Kami ingin belajar bagaimana Indonesia menguatkan kohesi sosial melalui pendidikan. Indonesia memiliki kemiripan konteks dengan Bangsamoro, yang juga dihuni Muslim, Kristen, dan kelompok adat,” jelasnya.

Salah satu pengalaman penting bagi Meriam adalah saat memasuki masjid bersama para guru Kristen.

Menurutnya, aktivitas seperti itu belum pernah menjadi bagian dari kurikulum di Bangsamoro.

“Sebagian anak Muslim menganggap masuk ke tempat ibadah agama lain itu dilarang. Kami ingin mengubah pandangan itu melalui pendidikan,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Abdulbasit Lingcoan Talicop, Education Program Specialist MBHTE.

Ia melihat keterbukaan masyarakat Indonesia dalam berdialog tentang keberagaman sebagai pelajaran penting bagi wilayah yang masyarakatnya masih cenderung konservatif.

“Keterbukaan ini memberi kami gambaran bagaimana isu keberagaman bisa masuk ke platform pendidikan,” katanya.

Abdulbasit menambahkan, BARMM tengah melakukan rekalkibrasi kurikulum agar lebih kontekstual bagi wilayah mayoritas Muslim, dan pembelajaran dari Indonesia akan menjadi referensi berharga dalam proses tersebut.

Delegasi Bangsamoro berharap program seperti ini membantu memperkuat pendidikan inklusif, memperluas pemahaman lintas agama, serta mendukung proses perdamaian yang sedang berlangsung di Filipina Selatan.

Baca artikel menarik lainnya dari JENDELAMALUKU.COM Di CHANNEL TELEGRAM